Kolaborasi pentahelix kembali ditegaskan sebagai kunci agar program Kodam XIII/Merdeka lebih mudah dipahami dan dimanfaatkan masyarakat. Pangdam XIII/Merdeka Mayjen TNI Mirza Agus menyampaikan hal itu saat bertatap muka dengan wartawan di Manado, Sulawesi Utara, pada Selasa. Bagi pembaca di Kendal dan wilayah lain, model sinergi serupa menjadi rujukan bagaimana TNI, pemerintah daerah, dan publik dapat bergerak seirama tanpa mengabaikan tugas pokok pertahanan.
Menurut Pangdam, sekitar delapan bulan bertugas di jajaran Kodam XIII/Merdeka sejak Desember tahun lalu membuatnya semakin yakin bahwa kerja sama lintas unsur mempercepat diseminasi kegiatan. Ia mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang selama ini mendampingi setiap program di lapangan.
Lima unsur yang saling menguatkan
Unsur yang dimaksud meliputi akademisi, dunia usaha, komunitas masyarakat, pemerintah, serta media massa. Kelima pihak itu disebut berperan dalam merancang, mengawal, sekaligus menyebarluaskan informasi program agar tidak berhenti di tingkat formal saja.
Pangdam menekankan bahwa setiap kegiatan Kodam sejak awal masa tugasnya selalu mengedepankan pendekatan kolaboratif. Pemerintah daerah, kampus, komunitas, media, dan swasta dinilai memberi ruang agar pesan TNI sampai dengan bahasa yang mudah diterima warga.
Karya bakti skala besar di kawasan kepulauan
Salah satu agenda yang membutuhkan dukungan bersama adalah karya bakti skala besar TNI Angkatan Darat. Fokus lokasi mencakup Kabupaten Kepulauan Talaud dan sebagian wilayah Kabupaten Kepulauan Sangihe.
Kegiatan itu diposisikan sebagai wujud kepedulian institusi dalam membantu percepatan pembangunan serta peningkatan kesejahteraan, terutama di daerah yang memerlukan perhatian ekstra. Sinergi lintas sektor diharapkan menjaga mutu pelaksanaan sekaligus memastikan manfaatnya terasa langsung bagi penduduk setempat.
Batalyon teritorial pembangunan dan target per kabupaten
Poin berikutnya menyangkut pembangunan satuan Batalyon Teritorial Pembangunan. Kodam XIII/Merdeka saat ini memperoleh empat titik pembangunan batalyon baru dalam kerangka pengembangan kekuatan TNI AD.
Ke depan, sesuai sasaran pusat, setiap kabupaten diharap memiliki satu batalyon sejenis. Kehadiran satuan tersebut tidak hanya memperkuat pertahanan wilayah, tetapi juga diarahkan memberi kontribusi nyata pada pembangunan dan kesejahteraan warga di sekitar lokasi.
Seleksi prajurit tanpa pungutan dan peran media
Pangdam juga menyampaikan penekanan Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Maruli Simanjuntak melalui video conference: seluruh proses pendaftaran serta seleksi penerimaan prajurit—tamtama, bintara, maupun perwira—tidak dipungut biaya. Informasi ini dinilai penting agar masyarakat tidak termakan isu pungli atau calo.
Hubungan kemitraan dengan insan media diminta terus dijaga. Sinergi TNI dan pers diharapkan menyalurkan informasi akurat, menumbuhkan optimisme, serta mendorong kemajuan sosial-ekonomi. Pertemuan di Manado dihadiri antara lain Kasdam XIII/Merdeka Brigjen TNI Wahyu Eko Purnomo, Irdam Brigjen TNI Esy Suharto, Kapoksahli Pangdam Brigjen TNI Saptono Syiwarudi, para asisten Kasdam, dan kabalakdam terkait.
Bagi daerah lain, termasuk Kendal di Jawa Tengah, pola komunikasi terbuka antara satuan TNI, pemerintah, dan media tetap relevan sebagai contoh tata kelola informasi publik yang berorientasi pada manfaat warga. Transparansi seleksi prajurit dan pelibatan komunitas setempat dapat menjadi pelajaran lintas wilayah tanpa mengubah konteks operasional Kodam XIII/Merdeka.
Dengan menjaga kolaborasi lima unsur, diseminasi program diharapkan lebih tertib, terukur, dan menjangkau kelompok masyarakat yang selama ini sulit mengakses informasi resmi. Momentum silaturahmi dengan pers di Manado menjadi pengingat bahwa kemajuan wilayah membutuhkan suara yang selaras antara aparat, sipil, dan ruang publik.
Sumber: Republika.
