KENDAL
Indeks
Nasional

Ahli Desak Cegah Karhutla Sepanjang Tahun lewat Analisis Risiko

Upaya cegah karhutla dinilai tidak cukup digiatkan hanya ketika musim kemarau sudah di depan mata. Pakar kebakaran hutan dan lahan Raffles B Panjaitan menekankan pendekatan berbasis risiko yang berjalan sepanjang tahun, memadukan data iklim, kesiapan operasional, dan pengelolaan lanskap hingga tingkat tapak. Pesan itu relevan bagi daerah, termasuk pembaca di Kendal dan Jawa Tengah, yang ingin memperkuat kewaspadaan lahan dan gambut tanpa menunggu asap tebal muncul.

Pernyataan tersebut disampaikan Raffles dalam diskusi Forest Insights bertema penyebab berulangnya kebakaran hutan serta cara pencegahan yang dianggap lebih tepat. Hadir pula Asep Karsidi dan Sugijanto Soewadi. Intinya, pengendalian karhutla mencakup pencegahan, penanggulangan, dan pemulihan lahan yang terbakar—bukan sekadar reaksi setelah api besar menyebar.

Pencegahan dirancang sejak awal tahun

Raffles menilai perhatian publik dan kelembagaan masih sering membesar setelah kebakaran terjadi. Padahal, pengendalian mestinya berlangsung 12 bulan. Rancangan kegiatan pencegahan, katanya, perlu disusun sejak Januari, Februari, dan Maret, jauh sebelum puncak kekeringan.

Pelibatan lintas pihak menjadi syarat. Pemerintah pusat dan daerah, pengelola di tingkat tapak, dunia usaha, organisasi masyarakat sipil, perguruan tinggi, serta warga setempat diminta bergerak dalam kerangka yang sama agar patroli, pengamanan lokasi rawan, dan kesiapan sumber air tidak terlambat diaktifkan.

Cuaca, TMC, dan pengelolaan air di lahan

Sistem berbasis risiko yang diusulkan memadukan monitoring informasi cuaca, analisis wilayah rawan, serta modifikasi cuaca. Teknologi modifikasi cuaca (TMC) digarap saat potensi awan masih memadai untuk disemai, lalu hasil hujan dikelola lewat sekat kanal, embung, dan penampungan lain.

Tujuannya menjaga kelembapan, terutama di lahan gambut, ketika kemarau berlangsung. Dari pengalaman sekitar satu dekade terakhir, keberhasilan TMC dapat memperpanjang musim hujan sekitar satu bulan sehingga musim kemarau berpotensi dipendekkan dalam durasi serupa. Tanpa pengelolaan air di lapangan, manfaat hujan buatan mudah menguap begitu saja.

Satgas terpadu dan deteksi dini yang disiplin

Di sisi operasional, Raffles menyoroti pentingnya satuan tugas terpadu, deteksi dini, kesiapan pemadaman darat dan udara, serta posko taktis lapangan. Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api (MPA), aparat kewilayahan, pemerintah desa, dan tim perusahaan sebaiknya bekerja dalam satu koordinasi, bukan jalur terpisah-pisah.

Penegakan hukum tetap berjalan beriringan dengan pemberdayaan MPA. Pencegahan dinilai lebih efektif bila patroli rutin dan pengamanan titik rawan dilakukan sebelum nyala api muncul, sambil memastikan personel dan peralatan siaga.

Hotspot alarm awal, bukan otomatis titik api

Informasi satelit soal titik panas atau hotspot, tegas Raffles, hanya indikasi awal. Data itu wajib diverifikasi lewat pengecekan lapangan, dengan prioritas pada titik berkepercayaan tinggi, agar respons cepat, tepat, dan sesuai kondisi di lokasi.

Ia mengingatkan prinsip bahwa api kecil dapat dikendalikan sebagai “kawan” kerja pemadaman dini, sedangkan api yang sudah membesar menjadi lawan yang jauh lebih mahal dan berisiko. Verifikasi ground check mencegah salah arah alokasi sumber daya hanya karena sinyal satelit.

Bagi masyarakat dan pengelola lahan di wilayah seperti Kendal serta daerah lain di Jateng, kerangka ini bisa dibaca sebagai pengingat: siapkan kelembagaan lokal, jaga kelembapan lahan, dan jangan menunggu status darurat untuk bergerak. Kolaborasi pemilik lahan, pertanian di tingkat tapak, pengendalian gambut, teknologi pemantauan, serta partisipasi warga menjadi fondasi agar karhutla tidak terus berulang dengan pola yang sama.

Ringkasnya, cegah karhutla menuntut disiplin tahunan—analisis risiko, intervensi cuaca yang diikuti aksi lapangan, satgas yang solid, dan verifikasi hotspot—bukan kampanye musiman semata. Tanpa itu, siklus asap dan biaya pemadaman besar berpotensi terus terulang setiap kemarau.

Sumber: Sindo News.

Tag: karhutla, pencegahan kebakaran hutan, modifikasi cuaca, lahan gambut, Manggala Agni, hotspot, Masyarakat Peduli Api, Jawa Tengah