KENDAL
Indeks
Jateng

Kafilah NTT Berangkat ke Semarang, Gubernur Tekankan Al-Qur’an Pedoman Karakter

Persiapan menuju ajang Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional 2026 semakin ramai dibicarakan di Jawa Tengah. Di Kupang, Gubernur Nusa Tenggara Timur Melki Laka Lena resmi melepas Kafilah NTT yang akan bertanding di Semarang pada 11–20 September 2026. Bagi pembaca di Kendal dan sekitarnya, kehadiran kafilah daerah lain di ibu kota provinsi menjadi momen penting karena ajang ini digelar di wilayah Jateng.

Melki menekankan bahwa MTQ bukan sekadar arena meraih piala. Ia meminta peserta menjadikan kitab suci sebagai pedoman sikap, bukan hanya hafalan dan lantunan indah. Pembinaan generasi, menurutnya, harus menyentuh kecerdasan sekaligus kejernihan hati dan keluhuran budi.

Pesan utama pejabat NTT saat pelepasan

Dalam sambutan di Kupang, gubernur menjelaskan bahwa pembangunan manusia di daerahnya tidak berhenti pada pengetahuan dan keterampilan. Pembentukan karakter dan spiritualitas dinilai sama krusialnya agar masyarakat mampu menghadapi tekanan zaman.

Ia berharap generasi yang fasih membaca Al-Qur’an juga mampu menampilkan ruh ajaran tersebut dalam perilaku sehari-hari. Di tengah arus informasi yang deras, kitab suci digambarkan sebagai penuntun arah agar kaum muda tidak kehilangan pijakan moral.

MTQ di Semarang dan makna bagi Jateng

MTQ XXXI Tingkat Nasional 2026 berlangsung di Semarang. Lokasi itu dekat dengan sejumlah kabupaten di pantura, termasuk Kendal, sehingga warga setempat berpeluang mengikuti perkembangan lomba, kegiatan pendukung, atau liputan keagamaan yang biasanya menyertai event nasional.

Penyelenggaraan di ibu kota Jateng juga mempertemukan kafilah dari berbagai provinsi. Suasana itu membuka ruang silaturahmi antarpeserta sekaligus menampilkan keragaman cara daerah mempersiapkan qari, qariah, dan cabang hafalan.

Lantunan yang menyentuh hati, bukan hanya juara

Kepada kontingen NTT, Melki berpesan agar setiap ayat yang dilantunkan tidak berhenti pada keindahan suara. Lantunan diharapkan mengetuk hati pendengar, menggerakkan penghayatan, dan membawa ketenangan bagi yang mendengarkan.

Prestasi tetap dihargai, namun kemenangan yang lebih bermakna digambarkan ketika ayat-ayat suci mampu melembutkan hati yang keras, menenangkan yang gelisah, dan mengingatkan yang lalai. Sportivitas, disiplin, serta penghormatan terhadap peserta daerah lain juga diminta dijaga selama berada di Semarang.

  • Menjaga nama baik daerah asal di arena nasional
  • Menjunjung sportivitas dan rasa hormat antar kafilah
  • Membawa nilai Al-Qur’an dalam sikap, bukan sekadar hafalan

Doa bagi saudara terdampak dan penutup pelepasan

Momentum pelepasan dikaitkan dengan kepedulian sosial. Gubernur mengajak peserta dan undangan mendoakan masyarakat Flores yang terdampak gempa, agar semangat berkompetisi diiringi empati dan persaudaraan.

Di akhir acara, kafilah diminta membawa doa seluruh warga NTT serta menampilkan Al-Qur’an dalam hati, akhlak, dan tindakan. Untuk warga Kendal yang mengikuti berita keagamaan dan event Jateng, rangkaian MTQ di Semarang menjadi pengingat bahwa nilai kitab suci relevan bagi pembentukan karakter lintas daerah.

Dengan penyelenggaraan di Semarang, perhatian publik Jateng terhadap pembinaan generasi Qur’ani diperkirakan meningkat. Semangat membumikan ajaran suci, sebagaimana disampaikan saat pelepasan di Kupang, dapat menjadi bahan renungan bersama tanpa mengabaikan semangat sportif di arena lomba.

Sumber: Republika.

Tag: MTQ Nasional 2026, Kafilah NTT, Semarang, Gubernur NTT, Al-Qur’an, Jawa Tengah, Kendal, tilawah