Lonjakan kasus ISPA karhutla menjadi perhatian nasional setelah Kementerian Kesehatan mencatat 50.891 kejadian Infeksi Saluran Pernapasan Akut selama Juli hingga Agustus 2026. Angka itu muncul seiring meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan serta pergerakan kabut asap lintas wilayah. Bagi pembaca di Kendal dan Jawa Tengah, data ini menjadi pengingat untuk memantau kualitas udara saat musim kemarau, meski titik api utama banyak tercatat di luar pulau.
Plt Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, menyampaikan temuan tersebut dalam konferensi pers di Gedung BNPB, Jakarta, pada Selasa, 1 September 2026. Pemantauan difokuskan pada dampak kesehatan masyarakat di tengah ancaman asap dari lahan yang terbakar.
Rincian angka dan kelompok usia terdampak
Dari total kumulatif 50.891 kasus ISPA pada periode Juli-Agustus 2026, sebanyak 12.600 dialami anak berusia di bawah lima tahun. Kelompok usia di atas lima tahun mencatat 38.291 kasus. Pada hari konferensi pers tersebut, Kemenkes juga mencatat 451 kasus ISPA.
Komposisi itu menunjukkan risiko tidak hanya pada balita, tetapi juga pada anak lebih besar, remaja, dan orang dewasa yang terpapar partikel asap dalam waktu cukup lama. Pemantauan kumulatif dua bulan menjadi dasar evaluasi respons kesehatan daerah yang terdampak langsung maupun tidak langsung.
Asap meluas hingga daerah minim titik api
Peningkatan kasus tidak terbatas pada lokasi dengan banyak hotspot. Surveilans Kemenkes menunjukkan kenaikan ISPA di seluruh provinsi di Pulau Kalimantan. Kalimantan Utara disebut sebagai contoh: kebakaran hutan dan lahan di sana nyaris belum tercatat, namun angka ISPA tetap naik.
Menurut Andi Saguni, asap tidak terikat batas administrasi. Angin dapat membawa kabut dari wilayah yang terbakar ke provinsi tetangga, sehingga risiko gangguan pernapasan ikut meningkat meski titik api setempat minim. Pola ini menjelaskan mengapa wilayah dengan aktivitas api rendah tetap merasakan dampak kesehatan.
Perbandingan dengan 2025 dan sebaran kabupaten-kota
Kemenkes membandingkan kondisi 2026 dengan periode yang sama pada 2025. Hasilnya, tren kasus ISPA meningkat di hampir seluruh provinsi. Sebanyak 63 kabupaten dan kota tercatat mengalami kenaikan kasus ISPA pada tahun ini.
Data tersebut menegaskan bahwa dampak karhutla bersifat regional. Daerah penerima asap perlu memperkuat surveilans harian, kesiapan fasilitas layanan primer, serta edukasi masyarakat tentang gejala ISPA, terutama pada kelompok rentan.
- Total kumulatif Juli-Agustus 2026: 50.891 kasus ISPA
- Balita (di bawah 5 tahun): 12.600 kasus
- Usia di atas 5 tahun: 38.291 kasus
- Kabupaten/kota dengan kenaikan: 63 wilayah
Implikasi kewaspadaan untuk warga Kendal dan sekitarnya
Meskipun fokus data nasional menunjuk Kalimantan dan sebaran kabut asap di sana, musim kemarau di Jawa Tengah sering disertai penurunan kualitas udara dari berbagai sumber. Warga Kendal disarankan membatasi aktivitas luar ruangan saat udara berasap, memakai masker bila diperlukan, menjaga hidrasi, serta segera berobat jika batuk, sesak, atau demam berlanjut—terutama pada balita dan lansia.
Pemerintah daerah dan fasilitas kesehatan setempat dapat memanfaatkan pola nasional ini untuk memperketat pemantauan ISPA pada puncak kemarau, tanpa menunggu status darurat di wilayah lain. Koordinasi informasi cuaca dan kualitas udara membantu keluarga merencanakan aktivitas harian yang lebih aman.
Secara keseluruhan, angka 50.891 kasus ISPA dalam dua bulan menegaskan bahwa karhutla adalah isu kesehatan masyarakat lintas batas. Pengendalian api di hulu, ditambah respons klinis dan komunikasi risiko di hilir, tetap diperlukan agar lonjakan serupa tidak berulang pada musim berikutnya.
Sumber: Liputan6.
