KENDAL
Indeks
Nasional

Teheran dan Muscat Sepakat Jalur Kapal di Hormuz, Syarat ke AS Dipertegas

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan Teheran telah menyepakati rute pelayaran Hormuz bersama Oman. Langkah itu disampaikan Jumat (28/8/2026) dan dikutip kantor berita IRNA keesokan harinya, dengan penekanan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz bergantung pada pemenuhan komitmen Amerika Serikat berdasarkan Memorandum Islamabad yang ditandatangani Juni.

Bagi pembaca di Kendal dan Jawa Tengah, perkembangan di jalur minyak dunia ini relevan karena Selat Hormuz menjadi urat nadi pasokan energi global. Gangguan atau normalisasi di sana kerap berimbas pada harga bahan bakar dan biaya logistik yang dirasakan rumah tangga serta pelaku usaha di daerah.

Isi kesepakatan dengan Oman dan syarat ke Washington

Pezeshkian menegaskan rute pelayaran melalui Hormuz sudah disepakati dengan Oman. Ia menambahkan, bila pihak AS menepati janji dalam nota kesepahaman tersebut, Iran akan membuka kembali selat itu. Rencana rute tersebut, menurutnya, juga telah disampaikan kepada Pemimpin Tertinggi Iran dan sedang ditindaklanjuti.

Syarat yang disebut mencakup pencabutan sanksi serta blokade, pelepasan aset, dimulainya investasi, dan pengakhiran perang di Lebanon. Ia menuturkan bahwa dalam perkembangan pembicaraan, pihak AS juga mengakui perlunya kembali pada nota kesepahaman itu.

Dukungan Dewan Keamanan Nasional dan capaian sementara

Presiden Iran memaparkan bahwa Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran mencapai konsensus yang disebutnya luar biasa: 12 dari 13 anggota memberikan suara mendukung kesepakatan. Kebijaksanaan kolektif itu dinilainya sebagai pencapaian besar bagi kebijakan luar negeri Teheran.

Menurut Pezeshkian, sanksi dan blokade pada tahap awal sempat dicabut. Negosiasi soal pelepasan dana Iran yang dibekukan telah dimulai, sementara rencana investasi senilai 300 miliar dolar AS atau sekitar Rp 5.327 triliun sedang dipersiapkan. Ia menyebut sanksi di sektor perbankan dan petrokimia dihapus berdasarkan nota kesepahaman, dan Iran mengekspor hampir 90 juta barel minyak selama kesepakatan berlaku.

Dampak perdagangan dan pembicaraan dengan negara Teluk

Angka impor serta ekspor Iran, kata Pezeshkian, sempat turun antara 25 persen hingga 35 persen akibat tekanan sebelumnya. Di sisi lain, Teheran telah berbicang dengan Qatar dan Uni Emirat Arab mengenai rencana investasi. Namun ia menegaskan proyek-proyek itu sulit dilanjutkan jika perang terus berlangsung.

  • Kesepakatan rute dengan Oman sebagai mitra di sisi selatan Hormuz
  • Keterkaitan pembukaan selat dengan komitmen AS di Memorandum Islamabad
  • Target investasi besar dan pemulihan arus minyak
  • Koordinasi dengan Qatar serta Uni Emirat Arab

Iran, lanjutnya, berupaya mengembalikan status Selat Hormuz seperti semula. Upaya itu dinilai gagal karena pihak lawan tidak mematuhi nota kesepahaman, sehingga normalisasi penuh belum terwujud.

Mengapa isu Hormuz penting dipantau dari Kendal

Selat Hormuz dilalui sebagian besar ekspor minyak Teluk Persia. Ketika arus kapal stabil, tekanan pada harga energi global cenderung mereda; sebaliknya, ketegangan dapat mendorong biaya transportasi dan harga BBM. Pemerintah daerah dan pelaku UMKM di Kendal yang bergantung pada distribusi bahan bakar serta barang impor perlu mencermati berita sejenis agar antisipasi biaya operasional lebih matang.

Hingga pernyataan Pezeshkian dikutip IRNA, fokus Teheran tetap pada pelaksanaan rute yang disepakati dengan Oman sambil menagih pemenuhan komitmen lawan bicara di Washington. Kejelasan jadwal pembukaan penuh selat belum dirinci dalam pernyataan tersebut, sehingga pasar global masih menunggu langkah konkret berikutnya.

Ringkasnya, kesepakatan rute pelayaran Hormuz antara Iran dan Oman menjadi sinyal diplomasi energi, namun realisasi pembukaan selat tetap dikaitkan pada sanksi, aset, investasi, dan situasi regional. Pemantauan lanjutan diperlukan bagi pembaca yang ingin memahami dampaknya pada stabilitas harga energi di Tanah Air.

Sumber: Republika.

Tag: Selat Hormuz, Iran Oman, Masoud Pezeshkian, memorandum Islamabad, minyak dunia, energi global, sanksi Iran, berita internasional