Tari kuda lumping yang dibawakan Miss Indonesia 2025 Audrey Bianca menjadi salah satu momen paling diingat di ajang Miss World 2026 di Vietnam. Sekembalinya ke Tanah Air, ia menuturkan pengalaman itu di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Rabu, 9 September 2026. Bagi pembaca di Jawa Tengah, termasuk Kendal, penampilan ini terasa dekat karena kuda lumping merupakan warisan seni rakyat yang hidup di banyak daerah di pulau Jawa.
Audrey menjelaskan bahwa kesempatan memperkenalkan akar budaya Indonesia terbuka lewat beragam cara, mulai dari busana, kuliner, hingga sikap sehari-hari di antara para kontestan. Namun, yang paling menarik perhatian panitia dan peserta lain justru saat ia naik panggung pada agenda Dances of the World.
Persiapan setahun untuk Dances of the World
Setiap tahun, kontingen Miss Indonesia memang menyiapkan tarian tradisional khusus untuk Miss World. Kali ini pilihan jatuh pada kuda lumping. Audrey menegaskan bahwa latihan dan penyusunan koreografi digarap dalam kurun waktu kurang lebih satu tahun sebelum keberangkatan ke Vietnam.
Proses panjang itu mencakup penguasaan gerak, kostum, serta penyampaian makna tarian agar penonton internasional memahami bahwa kuda lumping bukan sekadar atraksi, melainkan ekspresi budaya yang sarat semangat dan kekompakan komunitas.
Respons kontestan dan panitia di Vietnam
Menurut Audrey, penampilannya tidak hanya menjadi catatan pribadi, tetapi juga menjadi topik yang sering dibicarakan sesama finalis maupun jajaran penyelenggara selama ia berada di Vietnam. Banyak yang mengaku terkesan dengan energi dan keunikan gerak yang jarang mereka jumpai di pentas serupa.
Momen tersebut memperkuat posisi Indonesia sebagai negara yang aktif menampilkan kekayaan seni pertunjukan di kancah kecantikan dunia, bukan hanya mengandalkan busana nasional atau sesi wawancara.
Makna budaya untuk penonton Jawa Tengah
Kuda lumping akrab di sejumlah wilayah Jawa, termasuk kawasan pesisir dan pedalaman Jawa Tengah. Pembaca portal daerah seperti di Kendal dapat melihat penampilan Audrey sebagai jembatan: tarian yang biasa digelar di lapangan desa atau hajatan lokal kini tampil di panggung internasional tanpa kehilangan identitasnya.
Audrey menekankan bahwa pengenalan budaya tidak berhenti di satu nomor tari. Ia juga membawa narasi lewat pakaian, makanan, dan cara berinteraksi agar citra Indonesia utuh dan mudah diingat rekan-rekan dari negara lain.
Tradisi Miss Indonesia di ajang dunia
Keikutsertaan Audrey melanjutkan kebiasaan Miss Indonesia yang konsisten menyiapkan materi budaya sebelum bertolak ke Miss World. Tradisi ini dinilai penting agar setiap wakil nasional memiliki “suara” yang jelas di luar kompetisi formal.
Usai rangkaian di Vietnam, Audrey tiba kembali di bandara dengan rasa bangga sekaligus tanggung jawab untuk terus menyuarakan warisan lokal. Ia berharap generasi berikutnya tetap memilih tarian tradisional sebagai jembatan diplomasi budaya, bukan sekadar pelengkap acara.
Bagi masyarakat Kendal dan Jawa Tengah, kisah ini menjadi pengingat bahwa seni rakyat yang hidup di sekitar mereka punya daya jangkau global bila dikemas serius dan dipersiapkan matang. Penampilan kuda lumping Audrey Bianca di Miss World 2026 membuktikan bahwa panggung kecantikan dunia bisa menjadi ruang apresiasi budaya yang setara.
Sumber: Sindo News.
