Kebakaran hutan dan lahan atau karhutla Kalimantan Barat masih menjadi ancaman serius. Hingga Rabu, 2 September 2026, ratusan hektare lahan belum berhasil dipadamkan sepenuhnya, sementara kualitas udara di sejumlah wilayah dilaporkan masuk kategori berbahaya. Informasi ini penting dipantau masyarakat Jawa Tengah, termasuk pembaca di Kendal, karena asap karhutla kerap berdampak lintas pulau pada musim kemarau.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyampaikan kondisi terkini dalam konferensi pers. Ia menegaskan bahwa penanganan di lapangan masih berlangsung, namun sebaran api belum seluruhnya terkendali.
Luas lahan terbakar dan titik api terdeteksi
Menurut data BNPB yang dirilis hari itu, masih terdapat 31 titik api di Kalimantan Barat. Luas lahan yang diperkirakan terbakar mencapai 511,27 hektare. Dari jumlah tersebut, sekitar 135,85 hektare telah berhasil dipadamkan, sehingga tersisa sekitar 375 hektare yang masih dalam kondisi terbakar.
Angka resmi ini menunjukkan bahwa upaya pemadaman memang membuahkan hasil parsial, tetapi sisa api di lahan gambut menuntut perhatian berkelanjutan. Lahan gambut dikenal sulit dipadamkan karena api dapat merambat di bawah permukaan.
Lokasi terdampak di Kubu Raya
Salah satu kawasan yang menjadi sorotan adalah lahan gambut di Sekunder C, Rasau Jaya, Kabupaten Kubu Raya. Foto dan laporan lapangan dari pemerintah daerah menggambarkan asap tebal yang menyelimuti area tersebut. Kondisi gambut kering memperbesar risiko perambatan api ke blok lahan di sekitarnya.
Penanganan di wilayah gambut biasanya membutuhkan teknik basah yang intensif, termasuk penyemprotan berulang dan pemantauan malam hari. Koordinasi antara BNPB, pemerintah provinsi, dan satuan pemadam setempat menjadi kunci agar sisa 375 hektare tidak bertambah luas.
Kualitas udara berbahaya dan jarak pandang terbatas
Dampak langsung karhutla Kalimantan Barat tidak hanya pada vegetasi. Kualitas udara di sejumlah titik kini dikategorikan berbahaya. Jarak pandang dilaporkan hanya sekitar satu kilometer, kondisi yang mengganggu aktivitas warga, transportasi, serta kesehatan pernapasan kelompok rentan.
Masyarakat di luar Kalimantan, termasuk di pesisir utara Jawa seperti Kendal, tetap diimbau mengikuti perkembangan kualitas udara nasional. Meskipun jarak geografis jauh, pola angin musim kemarau sewaktu-waktu dapat membawa kabut asap ke wilayah lain. Kewaspadaan dini lebih bijak daripada menunggu dampak terasa.
Langkah pemantauan dan imbauan untuk publik
BNPB terus memperbarui data luas terbakar dan titik panas. Publik dapat memanfaatkan kanal resmi kebencanaan untuk memantau perkembangan harian. Di tingkat lokal, pemerintah daerah di Jawa Tengah biasanya memperkuat sosialisasi jika indeks udara memburuk.
- Hindari aktivitas luar ruangan berkepanjangan saat kabut tebal.
- Gunakan masker jika kualitas udara menurun.
- Pantau pengumuman resmi BNPB dan BMKG.
- Laporkan asap atau titik api baru kepada petugas berwenang.
Transparansi angka 511,27 hektare terbakar dan 135,85 hektare yang sudah padam membantu publik menilai skala bencana. Dengan 31 titik api yang masih terdeteksi, operasi pemadaman diperkirakan belum berakhir dalam waktu singkat.
Bagi pembaca Berita Kendal, berita karhutla di Kalimantan Barat menjadi pengingat bahwa isu lingkungan nasional saling terkait. Menjaga lahan residual, mendukung pencegahan pembakaran terbuka, dan mengikuti data resmi adalah langkah praktis yang bisa diambil siapa pun, di mana pun berada. Pemadaman sisa ratusan hektare di Kalbar akan terus dipantau hingga situasi benar-benar aman.
Sumber: Sindo News.
