Pertunjukan Meradjoet Sendja atau Persembahan Cinta untuk Republik digelar di Gedung Kesenian Jakarta sebagai puncak rangkaian Bakti Seniman Nusantara. Acara itu mempertemukan seni panggung dengan semangat kepedulian sosial, sekaligus mengajak penonton menapaki kembali suasana menjelang Proklamasi kemerdekaan Indonesia.
Kolaborasi digagas PARFI ’56, Keana Production, dan Dompet Dhuafa. Bagi pembaca di Kendal dan Jawa Tengah, momen ini relevan sebagai pengingat bahwa nilai persatuan dan pengorbanan para pendiri bangsa tetap layak direnungkan lewat medium seni, tanpa harus hadir langsung di ibu kota.
Kolaborasi seni dan kepedulian sosial
Bakti Seniman Nusantara menempatkan panggung bukan sekadar ruang hiburan. Program ini menegaskan bahwa karya pertunjukan dapat menjadi saluran solidaritas dan perhatian pada sesama. Pementasan di Gedung Kesenian Jakarta menjadi titik kulminasi dari upaya itu.
Melalui pendekatan teatrikal dan orkestrasi kebangsaan, peristiwa sejarah dikemas agar lebih dekat dengan penonton masa kini. Narasi perjuangan tidak berhenti pada fakta kronologis, melainkan diarahkan agar menimbulkan pengalaman emosional yang menguatkan rasa cinta tanah air.
Empat babak di bawah arahan Olivia Zalianty
Sutradara Olivia Zalianty membagi Meradjoet Sendja ke dalam empat babak naratif. Tiap babak membentuk rangkaian perjalanan cerita yang menuntun penonton menyusuri dinamika dan suasana menjelang lahirnya Republik.
Olivia menekankan pentingnya memberi penghormatan kepada para tokoh pendiri bangsa. Menurutnya, beragam pemikiran mereka bertemu dalam satu proyek pembebasan sehingga pantas mendapat tempat istimewa dalam ingatan kolektif. Pernyataan itu disampaikan Kamis, 27 Agustus 2026.
Sejarah Proklamasi dalam bahasa panggung
Kisah menuju kemerdekaan dihadirkan lewat bahasa seni agar nilai perjuangan, pengorbanan, dan persatuan mudah diserap generasi sekarang. Orkestrasi kebangsaan menjadi jembatan antara dokumentasi sejarah dan pengalaman menonton yang hidup.
Format tersebut dipilih agar peristiwa besar bangsa tidak terasa jauh. Seni menjadi medium pengingat bahwa kemerdekaan lahir dari kerja bersama, bukan dari satu sudut pandang tunggal.
- Lokasi: Gedung Kesenian Jakarta
- Program payung: Bakti Seniman Nusantara
- Mitra: PARFI ’56, Keana Production, Dompet Dhuafa
- Sutradara: Olivia Zalianty
- Struktur cerita: empat babak naratif
Makna bagi publik daerah seperti Kendal
Meskipun digelar di Jakarta, semangat Bakti Seniman Nusantara dapat menjadi rujukan bagi komunitas seni dan pendidikan di daerah, termasuk Kendal. Pertunjukan sejarah berbasis seni membuka peluang diskusi tentang cara menanamkan bela negara secara kreatif di sekolah, sanggar, maupun forum warga.
Panggung kesenian terbukti mampu menyatukan ekspresi artistik dengan pesan sosial. Model kolaborasi lintas lembaga seperti yang ditampilkan dalam Meradjoet Sendja layak dicermati sebagai contoh bagaimana seni menjaga memori kebangsaan sekaligus menumbuhkan empati.
Dengan mengangkat kembali Proklamasi melalui empat babak yang utuh, Meradjoet Sendja menegaskan bahwa mengingat sejarah bukan hanya membaca teks, melainkan merasakan ulang semangat yang menyatukan bangsa. Publik di berbagai daerah diharapkan membawa pulang nilai yang sama: persatuan, kepedulian, dan penghormatan pada jasa para pendiri Republik.
Sumber: Sindo News.
