Fasilitas rice mill Cilacap yang dilengkapi pengering dan penggilingan modern resmi beroperasi di Desa Ujung Gagak, Kecamatan Kampung Laut, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Peresmian pada Kamis, 13 Agustus, menandai langkah hilirisasi agar petani setempat tidak lagi sepenuhnya bergantung pada cuaca saat mengolah gabah. Bagi pembaca di Kendal dan wilayah Jateng lain, model ini menarik dicermati karena menyentuh isu klasik pascapanen yang sering menekan harga di tingkat petani.
Inisiatif digagas Rotary Club Jakarta Millennium District 3410 bersama Huaqiao Foundation Hong Kong dan Taiwan District 3501, dengan dukungan ChemStation Asia. Titik berangkatnya sederhana: lahan sudah produktif, namun tanpa alat pengering yang stabil, mutu gabah mudah jatuh begitu hujan datang, dan posisi tawar petani di hadapan tengkulak melemah.
Manfaat langsung bagi mutu dan harga gabah
Dengan dryer terintegrasi, proses pengeringan dapat dijaga lebih konsisten. Kadar air gabah diarahkan memenuhi standar mutu yang biasa dipersyaratkan lembaga pangan seperti Bulog. Hasil giling pun disebut lebih putih dan utuh, sehingga nilai jual beras di pasar regional berpeluang naik dibanding pola tradisional yang rentan rusak karena kelembapan.
Ketua Kelompok Tani Desa Ujung Gagak, Dedi Kusnaedi, menggambarkan perubahan itu sebagai pelengkap rantai dari hulu ke hilir. Ia menuturkan lahan yang dulu tidur kini menghasilkan gabah kering berstandar, beras berkualitas, dan harga yang lebih baik di tingkat petani. Kepastian pengolahan ini diharapkan memutus ketergantungan pada cuaca sekaligus menekan praktik rantai pasok yang merugikan.
Dari rawa malaria menjadi lumbung produktif
Kehadiran rice mill bukan titik awal, melainkan babak lanjutan transformasi Kampung Laut. Kawasan yang pernah dikenal sebagai rawa tidak produktif dan rawan malaria perlahan berubah setelah intervensi teknis dan sosial yang panjang. Dalam rentang sekitar 11 tahun, area pertanian produktif mencapai 7.000 hektare, dengan estimasi panen sekitar 84.000 ton per tahun dan akumulasi nilai ekonomi hingga Rp9,2 triliun.
Perubahan besar mulai terasa sejak 2013, ketika Past District Governor Rotary District 3410, Eva Kurniaty, meninjau langsung lokasi. Akses kala itu menempuh perjalanan laut sekitar tiga jam dari Cilacap, dilanjutkan jalan kaki menembus rawa. Gagasan membangun saluran dan pintu air sistematis muncul agar endapan lumpur kaya sedimen dari hulu mengisi lahan tidur, hingga rawa tandus berangsur menjadi hamparan sawah.
Pendanaan bergulir dan kesan mitra internasional
Eva menjelaskan bahwa sejak 2013 hingga 2025 digulirkan lima proyek pendanaan Rotary International untuk mengubah rawa menjadi lahan produktif. Warga kini menanam padi, sayur, dan buah-buahan. Lebih dari 2.000 keluarga tercatat merasakan perbaikan kesejahteraan seiring naiknya produktivitas kawasan.
Director Rotary International, Jennifer Scott, menyampaikan kekagumannya saat menyaksikan hamparan hijau yang sebelumnya identik dengan rawa sumber malaria. Ia menyinggung transformasi keluarga dan komunitas, termasuk anak-anak yang tampak lebih sehat dan bersekolah, sebagai tanda masa depan yang lebih terbuka bagi desa pesisir tersebut.
Komitmen keberlanjutan dan pelajaran untuk Jateng
President Rotary Club Jakarta Millennium, Sulaiman Subagya, bersama Managing Director ChemStation Asia, Dato Andrew Ng, menegaskan dukungan lanjutan agar program penunjang ekonomi masyarakat Kampung Laut tetap berjalan. Kolaborasi lintas negara ini diposisikan sebagai contoh transformasi desa terpencil yang memadukan perbaikan lahan, kelembagaan petani, dan investasi alat pascapanen.
Untuk konteks Jawa Tengah, termasuk daerah dengan basis pertanian seperti Kendal, kisah Ujung Gagak menggarisbawahi pentingnya menutup celah hilirisasi. Produksi tinggi saja tidak cukup jika pengeringan dan penggilingan masih rentan cuaca. Fasilitas terpadu memberi ruang petani menjaga mutu, memperbaiki posisi tawar, dan memperkuat ketahanan pangan lokal tanpa mengorbankan harga di tingkat produsen.
Ke depan, keberhasilan rice mill di Kampung Laut akan diukur dari konsistensi operasi, akses petani kecil terhadap layanan penggilingan, serta transparansi harga. Jika rantai hulu-hilir tetap terjaga, model serupa berpotensi menjadi rujukan kawasan pesisir dan lahan reklamasi lain di Jateng yang menghadapi tantangan pascapanen serupa.
Sumber: CNN Indonesia.
